11 Kesalahan Berpikir Soal SEO yang Harus Anda Sadari dan Perbaiki
![]() |
Kesalahan Berpikir Soal SEO yang Harus Anda Sadari dan Perbaiki |
SEO adalah kependekan dari Search Engine Optimization. Metode optimasi website agar dapat tampil di urutan teratas halaman pertama Google, search engine terpopuler di dunia, melalui kata kunci tertentu yang ditargetkan.
Istilah ini pastinya sudah sering terdengar di telinga Anda, terlebih untuk Anda yang berkecimpung dalam dunia digital and growth marketing. Perlu diketahui bahwa istilah SEO bukanlah istilah baru. SEO sebagai bagian dari pemasaran sudah ada sejak tahun 1997.
Didapatkan dari beberapa sumber seperti Gramedia dan Search Engine Land, istilah ini diperkenalkan oleh Bruce Clay, John Audette, dan Bob Heyman. Gaung istilah ini semakin besar setelah perkembangan cepat Yahoo dan tentu saja Google.
Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh bisnis yang menjalankan metode pemasaran ini. Manfaat tersebut secara garis besar berkaitan dengan peningkatan performa website utama. Adapun manfaat terbesar dari SEO adalah peningkatan brand awareness melalui Google.
Dalam proses penerapan SEO, Anda akan menemukan banyak metode di dalamnya. Secara umum, SEO terdiri dari empat jenis utama. Empat jenis metode SEO ini adalah SEO On-Page, SEO Off-Page, Technical SEO, dan Local SEO (beberapa ahli ada yang menganggap Local SEO bagian dari SEO Off-Page).
Setiap metode SEO di atas, memiliki teknik turunannya masing-masing. SEO On-Page adalah metode SEO yang seluruh langkahnya dilakukan pada website utama. Salah satu teknik populer di dalam metode ini adalah pembuatan artikel SEO friendly.
SEO Off-Page adalah metode SEO yang seluruh langkahnya dilakukan pada website atau platform informasi alternatif. Link building adalah salah satu teknik populer dari metode ini. Link building sendiri adalah teknik penanaman link web utama dari web/platform berbeda.
Technical SEO, seperti yang sudah bisa Anda tebak, ini adalah metode SEO yang seluruh langkahnya fokus pada hal-hal teknis. Contohnya seperti perbaikan link, redirects, breadcrumbs, UI/UX, dan lain-lain.
Lalu yang terakhir ada Local SEO. Local SEO adalah metode SEO yang seluruh langkahnya difokuskan pada pencarian lokal bisnis. Optimalisasi profil Google My Business adalah teknik populer dari metode ini.
Menjalankan keempat metode SEO di atas lengkap dengan berbagai turunan teknik di dalamnya, tentu saja bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus siap untuk Anda hadapi. Beberapa di antara banyak tantangan tersebut seperti:
- Tren konten dan pencarian informasi yang cepat berubah.
- Zero-Click Search
- Persaingan dengan kompetitor.
- Perubahan algoritma Google.
- Tuntutan akan pelaksanaan SEO yang berkualitas dan konsisten.
Lima tantangan di atas sudah cukup menjadikan banyak pebisnis menyerah akan SEO. Apalagi untuk pebisnis yang tidak sabaran dan senang dengan cara-cara instan. Pebisnis yang seperti ini, biasanya disebabkan oleh banyak hal.
Selain karena ketidaktahuan, desakan untuk cepat sukses juga jadi penyebab mengapa strategi SEO yang dijalankan pebisnis berakhir dengan kegagalan. Rasa inilah yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada banyak kesalahan berpikir soal SEO yang fatal.
Kesalahan berpikir mengenai SEO inilah yang menjadikan strategi SEO mereka tidak relevan, tidak terarah, tidak berkualitas, asal cepat dan banyak saja. Nah, bagi Anda yang masih pemula penting untuk mengetahui apa saja kesalahan berpikir dalam SEO ini.
Di dalam artikel ini, admin akan membahas lengkap setidaknya 11 kesalahan berpikir soal SEO yang harus Anda sadari dan perbaiki. Beberapa dari kesalahan berpikir soal SEO ini terbilang terpopuler. Penasaran? Silakan simak baik-baik artikel ini ya!
1. Menganggap Iklan Google atau Meta Ads Dapat Memberikan Pengaruh Besar untuk SEO
Hasil Google Ads Search |
Kesalahan berpikir soal SEO yang pertama adalah menganggap iklan Google (Google Ads) atau Meta Ads dapat memberikan pengaruh besar untuk SEO. Iklan Google atau Meta Ads memang akan memberikan pengaruh untuk SEO.
Tetapi, perlu diketahui bahwa pengaruh tersebut tidak bersifat natural atau tidak langsung sebagaimana pengaruh SEO yang diharapkan. Traffic website yang Anda inginkan meningkat mungkin saja terjadi, tetapi jenis traffic tersebut bersifat paid traffic.
Artinya, selama Anda membayar, maka selama itulah pula traffic tinggi yang akan Anda dapatkan. Jika Anda berhenti melakukan pembayaran, maka paid traffic itu tidak akan lagi Anda dapatkan.
Bagaimana jadinya jika konten Anda iklankan melalui metode Pay Per Click, ternyata masih berada di halaman pertama Google meskipun iklannya sudah tidak aktif? Hal ini bisa saja terjadi karena konten tersebut pada awalnya memang sudah SEO friendly.
2. Wajib Menargetkan Keyword yang Ramai Dicari
Kesalahan berpikir soal SEO yang kedua adalah wajib menargetkan keyword atau kata kunci yang ramai dicari. Anggapan ini wajar saja muncul terlebih dari para pemula. Mereka mengharapkan kenaikan traffic signifikan dari kata kunci yang banyak dicari.
Tidak ada yang salah dengan pola pikir seperti ini. Pola pikir ini menjadi kurang tepat ketika kata kunci yang ditargetkan tidak relevan dengan niche utama website bisnis. Website yang terlalu banyak memuat informasi yang bukan berada di otoritasnya, akan melemahkan peluangnya untuk ranking.
Selain harus memperhatikan relevansi, Anda juga harus memperhatikan tingkat kesulitan dari kata kunci yang ingin ditarget. Kata kunci yang ramai dicari oleh pengguna Google, umumnya akan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Oleh sebab itu, penting bagi Anda mempelajari dengan baik proses research keyword yang komprehensif serta tertarget. Proses ini perlu dipelajari terlebih jika website Anda berada pada kategori YMYL (Your Money Your Life).
3. Technical SEO Hanyalah Daftar Checklist
Joe Handaya dan Pandangannya Tentang Audit SEO |
Terinspirasi dari status Joe Handaya, SEO Manager dari Ruangguru sekaligus salah satu SEO Marketer ternama Indonesia, adalah banyak pemula yang menganggap bahwa technical SEO hanya seputar daftar checklist saja.
Mereka yang masih pemula ini menganggap bahwa technical SEO sangat bergantung pada hasil audit technical SEO. Setelah tools memberikan hasil audit, maka selesailah pelaksanaan technical SEO. Pola pikir seperti ini dibantah keras oleh Mas Joe.
Dalam statusnya di LinkedIn, ia mengatakan bahwa technical SEO itu adalah memiliki ruang lingkup yang luas. Dapat admin pahami bahwa technical SEO yang ia jelaskan harus dapat memberikan pengalaman positif kepada pengunjung.
Sering kali, manual review yang dilakukan membantu pebisnis menemukan celah bahwa websitenya kurang human friendly. Ingat, Mas Joe maupun admin tidak berkata bahwa audit technical SEO menggunakan tools itu tidak penting.
4. SEO Hanya Tentang Google Saja
Kesalahan berpikir soal SEO berikutnya adalah percaya bahwa SEO hanya diterapkan untuk search engine Google saja. Kesalahan berpikir soal SEO yang seperti ini, wajar saja muncul mengingat Google memang search engine terpopuler di dunia.
Ketika kita berbicara tentang search engine, maka nama Google akan menjadi top of mind di kepala kita. Resourcera mengungkapkan bahwa Google menguasai sekitar 90,04% pangsa pasar search engine di hampir semua jenis perangkat.
Angka ini jauh mengungguli pesaing "terdekatnya" Bing dengan persentase 4,31% di semua perangkat. Meskipun Google begitu superior, bukan berarti search engine lainnya tidak penting untuk Anda pelajari. Bing, Yandex, DuckDuckGo, Baidu, dan lain-lain tetap harus Anda perhatikan perkembangannya.
Ingat, istilah Too Big To Fail tidak selamanya akan awet. Yahoo, Nokia, Blackberry, Kodak, dan sejenisnya menjadi pengingat untuk kita tidak terlalu bergantung pada satu ekosistem ekonomi.
5. Kata Kunci di dalam Konten Harus Mencapai Jumlah Tertentu
![]() |
John Mueller Tentang Keyword Density |
Selanjutnya adalah percaya bahwa kata kunci di dalam konten harus mencapai jumlah tertentu. Anggapan ini wajar muncul terlebih untuk pemula yang masih menggunakan pakem keyword density yang ketat.
Keyword density sendiri adalah persentase munculnya kata kunci utama di dalam konten. Banyak yang beranggapan bahwa keyword density di dalam konten harus muncul sebanyak 2% atau 3% dari jumlah total kata yang dituliskan.
Baca Juga: Apakah Keyword Density Masih Relevan untuk Strategi SEO?
Admin memang sudah membahas ini pada artikel sebelumnya. Matt Cutts, mantan Head of Webspam tim Google mengatakan bahwa keyword density dengan pakem harus 2% atau 3%, tidak lagi relevan. Bantahan juga dilakukan oleh John Mueller, Senior Search Advocate Google.
Fakta uniknya, mau sebesar apapun persentase keyword density yang Anda terapkan, jika Google tidak menginginkannya tampil pada kata kunci tertarget, maka itu artinya konten Anda tidak cukup bagus memenuhi search intent kata kunci tertarget.
6. Jumlah Kata di dalam Konten Harus Mencapai Jumlah Sekian
Berikutnya adalah percaya bahwa jumlah kata di dalam konten harus mencapai jumlah sekian. Misalnya 1000 kata, 2000 kata, 5000 kata, dan seterusnya. Pola pikir seperti ini muncul karena anggapan bahwa konten panjang selalu unggul.
Faktanya, tidak demikian. Google tidak mempermasalahkan jumlah kata dari konten Anda. Yang Google permasalahkan adalah bagaimana kualitas konten tersebut dan hubungannya dengan search intent kata kunci tertarget.
Baca Juga: Apakah Konten Panjang Selalu Unggul untuk SEO?
Apabila konten yang Anda kreasikan hanya berjumlah 800 - 1000 kata, tetapi sudah memenuhi search intent kata kunci tertarget, maka konten tersebut tetap bisa ranking dan mendapatkan posisi yang lebih baik daripada konten panjang 2000 atau 5000 kata yang bertele-tele.
Perlu diketahui juga bahwa setiap jenis konten memiliki pola penyajian informasi yang berbeda-beda. Ingat juga bahwa attention span pengguna internet sekarang semakin menurun. Samba Recovery menjelaskan bahwa rata-rata attention span manusia sekarang ini adalah 8,25 detik.
7. Semakin Banyak Konten Semakin Baik
Pertanyaan di Quora Tentang Apakah Lebih Baik Menjalankan Blog yang Fokus 1 Topik atau Tidak |
Kesalahan berpikir berikutnya adalah menganggap bahwa semakin banyak konten maka semakin baik untuk performa SEO secara keseluruhan. Sebenarnya, anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Website yang aktif memberikan konten terbaru, tentu akan mendapatkan perhatian lebih dari Google.
Selain itu, website tersebut juga akan dipandang up-to-date oleh pengguna Google. Semakin banyak konten juga akan memudahkan website melakukan teknik reciprocal link dengan banyak calon mitra SEO.
Masalahnya, kuantitas yang tidak dibarengi dengan kualitas hanya akan memberikan dampak negatif untuk website. Website berisiko dianggap spam dan memberikan informasi KURENG BERHARGA untuk audiens. Jangankan untuk ranking, terindeks saja mungkin sulit.
Lebih parah lagi jika konten yang dituliskan ternyata tidak memiliki relevansi yang kuat dengan otoritas website. Tanpa ada positioning yang kuat, website Anda hanya akan dikenal sebagai website gado-gado tanpa ada tujuan yang terarah.
8. Traffic Tinggi Adalah Segalanya
Kesalahan berpikir soal SEO berikutnya adalah menganggap bahwa traffic tinggi adalah segalanya. Pola pikir seperti ini mungkin saja menjadi benar terlebih jika Anda menjalankan website gado-gado. Tetapi, untuk website bisnis yang jelas topiknya lebih spesifik, traffic tinggi bukan segalanya.
Pelajari terlebih dahulu dari mana traffic tinggi yang website Anda dapatkan. Apakah traffic tinggi tersebut benar-benar datang dari sumber yang berkualitas atau tidak. Ingat, di dalam bisnis konversi tetap memegang peranan paling penting.
Bukan berarti traffic tinggi tidak penting, hanya saja traffic tinggi tidak selalu ampuh mendatangkan konversi dan penguatan topical authority yang diinginkan. Pengalaman admin mengatakan bahwa ada banyak traffic website bisnis yang tergolong tinggi, tetapi konversinya rendah.
Umumnya, masalah ini disebabkan karena sumber traffic yang tidak berkualitas, relevansi konten yang rendah, terlalu banyak konten informasi, terlalu banyak konten hard selling, copywriting yang kurang menarik, customer journey yang sulit, dan lain sebagainya.
9. Backlink Harus dari Website Media Besar
Website Kompas |
Berikutnya adalah backlink yang harus didapatkan dari website media besar, sebut saja seperti CNN, iNews, Metro, Kompas, Liputan6, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa Google tidak pernah mengatakan bahwa backlink dari media besar dapat memengaruhi ranking.
Website yang mendapatkan backlink dari media besar umumnya memang akan lebih dipandang. Mendapatkan gengsi yang lebih prestisius ketimbang backlink dari website umum. Tetapi, konten backlink yang dikreasikan pada web media besar, terbilang sulit untuk perform.
Hal ini wajar saja terjadi terlebih jika konten backlink yang Anda kreasikan untuk website media besar tersebut bersifat hard selling. Pengunjung website media besar pada umumnya ingin mendapatkan berita hangat dan bukan berita tentang periklanan.
Baca Juga: Strategi Blog Storytelling, Cara Ampuh Menarik Perhatian Audiens
Konten Anda memiliki peluang besar untuk diabaikan. Oleh sebab itu, jika Anda tetap berminat untuk memasang backlink dari website media besar, buatlah konten backlink bersifat soft-selling, seperti mengandung brand storytelling yang kuat.
10. Semakin Banyak Internal Link di dalam Konten, Semakin Baik
Menjelang akhir, adalah berpikir bahwa semakin banyak internal link di dalam konten, maka semakin baik. Internal link adalah link yang mengarahkan pengunjung pada konten yang berbeda tetapi masih dalam satu website yang sama.
Teknik ini biasanya digunakan untuk meningkatkan dwell time website, menurunkan bounce rate, serta menghindarkan website dari banyaknya orphaned content. Teknik ini menjadi bermanfaat jika Anda menerapkannya secara relevan, natural, dan clickable.
Aspek terakhir yakni clickable sering kali dilupakan oleh banyak pegiat SEO pada umumnya. Banyak yang memasang internal link begitu saja pada kata tertentu di tengah-tengah kalimat tanpa memikirkan apakah link tersebut mudah menarik klik pengunjung atau tidak.
Anda bisa menerapkan aspek clickable terakhir ini dengan menjalankan strategi seperti pembuatan call to action sebelum pemberian internal link, "Baca Juga", call to action sebagai anchor langsung. Adapun admin lebih suka strategi "Baca Juga"
11. SEO itu Mudah & Gitu Gitu Saja
Blog Post Willy Evans |
Kesalahan berpikir soal SEO terakhir yang akan admin jelaskan di dalam artikel ini adalah menganggap bahwa SEO itu mudah dan gitu-gitu saja. Ingat, SEO itu adalah strategi jangka panjang dan memerlukan waktu sebelum bisa memberikan Anda buah yang manis.
SEO itu tidaklah mudah. Diperlukan riset kata kunci, kompetitor, perencanaan konten, perbaikan teknis, link building, dan dukungan dari strategi marketing lainnya yang konsisten. Proses ini tidak boleh berhenti, tetapi juga tidak boleh asal jalan.
Anda tetap harus memikirkan kualitas dan relevansi strategi SEO dengan tujuan utama bisnis. Apakah SEO gitu-gitu saja? Jika dilihat dengan spektrum yang luas, memang benar bahwa SEO gitu-gitu saja. perencanaan, pembuatan konten, perbaikan teknis, lalu berulang.
Tetapi, jika dilihat dengan kacamata yang lebih spesifik, SEO terus mengalami perkembangan yang signifikan. Saat ini kita bahkan sudah mengenal istilah AIO, GEO, AEO, SXO, dan lain-lain.
Kesimpulan
![]() |
Infografis Kesalahan Berpikir Soal SEO |
Inilah penjelasan lengkap tentang 11 kesalahan berpikir soal SEO yang harus Anda sadari dan perbaiki. Dari 11 kesalahan di atas, kita dapat menyadari bahwa SEO itu adalah soal kualitas, relevansi, natural, konsistensi, dan penerapan yang holistik.
Akhir kata, admin Naseonal.com mengucapkan terima kasih kepada para pembaca karena sudah membaca artikel "11 Kesalahan Berpikir Soal SEO yang Harus Anda Sadari dan Perbaiki" sampai akhir.
Apabila Anda terbantu dengan penjelasan ini, admin berharap Anda juga dapat membagikannya kepada teman atau orang lain yang sekiranya membutuhkan.
![]() |
Share Konten IG Stories Naseonal |
"Silakan gunakan gambar di atas jika Anda berminat untuk share konten ini di Instagram Stories. Beritahu admin di kolom komentar apabila Anda sudah share konten di atas agar admin dapat melakukan hal yang sama untuk blog Anda".




Tidak ada komentar:
Tulis commentsBerikan komentar yang sopan dan jauh dari kata SARA