Apakah Keyword Density Masih Relevan untuk Kampanye SEO?
![]() |
Apakah Keyword Density Masih Relevan untuk Kampanye SEO |
Satu dari sekian banyak metode yang sering digunakan ketika membuat konten SEO website adalah keyword density. Istilah ini mungkin tidak lagi asing di telinga Anda, pegiat SEO.
Hal ini wajar mengingat keyword density adalah metode klasik pembuatan konten.
Metode ini dapat dengan mudah Anda terapkan langsung pada website WordPress, terlebih jika Anda sudah memasang plugin Yoast SEO.
Untuk pengguna platform blog yang berbeda misalnya Blogger, Anda bisa menggunakan SEO Review Tools, Scalenut, Copywritely, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Rekomendasi Tools Keyword Density untuk Kampanye SEO
Tentu saja setiap tools memiliki referensinya masing-masing. Ada yang menggunakan referensi 2% dari jumlah total kata di dalam konten dan ada pula yang menggunakan referensi 3% dari jumlah total kata di dalam konten.
Lantas, referensi manakah yang seharusnya Anda gunakan? Apakah keyword density masih relevan untuk kampanye SEO? Di dalam artikel ini, Anda akan mendapatkan jawaban lengkapnya. Jadi, silakan simak baik-baik ya!
Apa itu Keyword Density?
Mari kita mulai membahas artikel ini dengan definisi keyword density. Barangkali di antara kalian sudah banyak yang lupa apa itu keyword density. Didapatkan dari RevoU.co, keyword density adalah konsep SEO yang mengacu pada seberapa sering kata kunci utama dimunculkan di sebuah konten.
Baca Juga: Apa itu Keyword Density, Fungsi, Tools, dan Bagaimana Cara Memaksimalkannya?
Metode ini sering digunakan untuk menghindari konten dari penerapan keyword stuffing yang tidak disengaja. Untuk dapat menghitung keyword density pada sebuah konten, kita dapat menggunakan rumus seperti ini:
Keyword Density = (Jumlah kata kunci tertarget / jumlah total kata di dalam konten) x 100.
Adapun persentase yang digunakan biasanya adalah 2% atau 3%.
Keyword Density vs Keyword Stuffing
Dalam penjelasan definisi keyword density di atas, Anda pasti mengingat istilah keyword stuffing bukan? Apa itu keyword stuffing?
Keyword stuffing adalah salah satu teknik dari metode Black Hat SEO yang memuat banyak kata kunci utama di dalam konten secara ugal-ugalan.
Metode ini jelas menjadikan konten tidak enak untuk dibaca. Memberikan pengalaman yang buruk untuk pengunjung website Anda. Hal ini juga akan berimbas pada performa ranking konten website Anda di SERP (Search Engine Results Page).
Konten yang memberikan pengalaman buruk untuk pengunjung website akan mengalami kesulitan untuk ranking. Jangankan untuk ranking, untuk konten tersebut dapat masuk indexing saja sulit. Lebih parah lagi, konten tersebut dapat menjadi sebab website Anda mendapatkan penalty dari Google.
Kekhawatiran inilah yang pada akhirnya mendorong pegiat SEO di masa-masa awal era 90-an, mengembangkan konsep keyword density. Keyword density digunakan sebagai cara terbaik untuk pemilik website dapat membuat kontennya lebih natural.
Keyword Density Bukan Faktor Ranking
Sayangnya, penggunaan konsep keyword density dari masa ke masa menjadi terlalu kaku. Banyak pegiat SEO yang terlalu terpaku pada persentase 2% atau 3% yang disarankan.
Kondisi ini menjadikan fungsi awal keyword density menjadi berantakan.
Entah itu 2%, 3%, atau 5% sekalipun kunci penting untuk penerapan keyword density adalah natural. Penempatan kata kunci utama di dalam artikel masih enak untuk dibaca dan relevan. Contohnya seperti konten di bawah ini:
Contoh Penerapan Keyword Density yang Natural, Sumber: Buletin LinkedIn viSEOner |
Penempatan kata kunci utama (Jasa SEO Jogja), masih dibaca bukan? Perlu Anda ketahui juga bahwa Google telah memberikan jawaban resmi untuk konsep keyword density ini.
Mantan Head of Webspam tim Google, Matt Cutts di tahun 2011 lalu menjelaskan bahwa tidak ada keyword density yang ideal di mata Google.
Matt Cutts menjelaskan bahwa konsep keyword density lebih kepada kemampuannya untuk membantu Anda menghindari keyword stuffing.
Matt Cutts berkata:
Ketika Anda mulai memasukkan banyak keyword, secara keseluruhan itu tidak akan banyak membantu. Ada hasil yang berkurang. Memasukkan keyword hanya akan memberikan manfaat tambahan, tetapi sebenarnya tidak terlalu besar.
Dan kemudian apa yang Anda dapatkan adalah, ketika Anda terus melakukan hal yang berulang-ulang, maka berada dalam bahaya keyword stuffing atau omong kosong dan hal-hal yang semacam itu.
Jadi satu atau dua kata pertama yang Anda sebutkan yang mungkin membantu untuk mendapatkan ranking yang baik. Tapi, hanya karena Anda bisa menyebutkannya tujuh atau delapan kali, itu tidak berarti akan membantu meningkatkan ranking Anda.
John Mueller, Senior Search Advocate (masih bekerja di Google) mengatakan dengan jelas bahwa keyword density bukanlah faktor ranking konten di SERP.
Ia menjawab singkat pertanyaan "Apakah keyword density masih menjadi faktor SEO di tahun 2021" dengan kata NO.
Apa yang dikatakan oleh mantan orang dalam dan orang dalam Google ini, sepertinya sudah cukup untuk menjawab kegilaan beberapa pegiat SEO tentang persentase keyword density yang seharusnya.
Dari sini, kita dapat mengatakan dengan jelas bahwa keyword density tidak relevan sebagai faktor ranking konten. Keyword density baru akan relevan untuk menghindari keyword stuffing jika Anda menerapkannya secara natural.
Faktanya, Ada Banyak Konten yang Muncul di Keyword yang Berbeda
Apa jadinya jika Anda sudah menerapkan keyword density secara natural untuk kata kunci tertentu tetapi konten Anda malah baru bisa ditemukan pada kata kunci pencarian yang berbeda?
Di sinilah uniknya cara kerja Google.
Apa yang dikatakan oleh Matt Cutts dan John Mueller tadi semakin mempertegas bahwa keyword density bukanlah faktor ranking. Algoritma Google memahami sebuah konten dari banyak aspek.
Dimulai dari bagaimana konten tersebut dapat memenuhi search intent, E-E-A-T, topical authority, dan lain sebagainya.
Apabila Anda sudah yakin bahwa konten Anda yang kreasikan akan tampil untuk kata kunci tertentu yang ditargetkan tetapi kenyataannya tidak, maka Anda harus paham bahwa konten Anda itu:
TIDAK CUKUP BAGUS untuk ditampilkan pada SERP kata kunci tersebut.
Sakit, tapi begitulah faktanya. Sebaliknya, jangan terlalu fokus untuk mengandalkan keyword density secara natural saja, mulailah untuk mempelajari penerapan LSI (Latent Semantic Indexing) keyword.
Baca Juga: Benarkah Konten AI Tidak Baik untuk SEO?
LSI Keyword adalah kata atau frasa yang secara kontekstual terkait dengan kata kunci utama yang ditargetkan. Agar lebih mudah dipahami, kita bisa menyebutnya dengan istilah sinonim.
Semisal Anda menargetkan kata kunci Jasa SEO, maka LSI keyword bisa berupa Jasa Optimasi Website.
Apakah Keyword Density Masih Relevan?
Admin telah melakukan riset kecil-kecilan untuk tiga kategori konten, Top of Funnel, Middle of Funnel, dan Bottom of Funnel. Masing-masing kategori konten tersebut admin pelajari dari tiga kata kunci utama berjenis long-tail keywords.
Dimulai dari Top of Funnel yang terdiri dari tiga kata kunci utama yakni:
- Apa itu Jerawat?
- Apa itu Artificial Intelligence?
- Apa itu Data Science?
Lalu untuk Middle of Funnel yang terdiri dari tiga kata kunci utama yakni:
- Jasa SEO Indonesia
- Jasa SEO Jogja Terbaik
- Jasa Optimasi Website Terbaik
Dan terakhir untuk Bottom of Funnel yang terdiri dari tiga kata kunci utama yakni:
- Beli Sepeda Anak Murah
- Harga Gamis Syar'i Murah
- Sepeda Anak Polygon Bekas
Ditemukan hasilnya seperti ini:
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Apa itu Jerawat |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Apa itu Artificial Intelligence |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Apa itu Data Science |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Jasa SEO Indonesia |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Jasa SEO Jogja Terbaik |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Jasa Optimasi Website Terbaik |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Kunci Beli Sepeda Anak Murah |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Harga Gamis Syari Murah |
![]() |
Riset Keyword Density Pada Konten di Halaman 1 Google Kata Sepeda Anak Polygon Bekas |
Dari hasil riset kecil-kecilan admin di atas, dapat kita katakan bahwa keyword density itu tidak relevan sebagai faktor ranking konten di SERP.
Faktanya juga bahwa ada banyak konten yang berhasil ranking tanpa memiliki persentase keyword density 2% atau 3%.
Ingat, untuk jangan pernah abaikan permainan Latent Semantic Indexing Keyword. Jangan terlalu terpaku dengan keyword density. Pastikan konten yang Anda tulis mampu memenuhi search intent atau metode terbarunya pain-point konten.
Kesimpulan
![]() |
Infografis Naseonal Apakah Keyword Density Masih Relevan |
Inilah penjelasan lengkap relevansi keyword density terhadap kampanye SEO. Dari penjelasan dapat kita pahami jelas bahwa keyword density hanya relevan ditujukan untuk menghindari keyword stuffing dan dilakukan secara natural.
Akhir kata, admin Naseonal.com mengucapkan terima kasih kepada para pembaca karena sudah membaca artikel "Apakah Keyword Density Masih Relevan untuk Kampanye SEO?" sampai akhir.
Apabila Anda terbantu dengan penjelasan ini, admin berharap Anda juga dapat membagikannya kepada teman atau orang lain yang sekiranya membutuhkan.
![]() |
Share IG Stories Blog Naseonal |
"Silakan gunakan gambar di atas jika berminat untuk share konten ini di Instagram Stories. Beritahu admin di kolom komentar apabila sudah share gambar di atas agar admin dapat melakukan hal yang sama untuk blog Anda".












Terima kasih untuk tulisan yang menambah pengetahuanku. Karena pakai wordpress jadi ikut panduan aja, yang penting hijau ha ha ha.
BalasHapusTapi yaa, makin kesini perlu lebih tahu hal-hal ini dan fokus juga dengan algo google E-E-A-T. Secara logik aku lebih manut sama itu. Karena bagaimanapun hal yang dibutuhkan orang sekarang tuh pengalaman. Walau nanti bisa jadi berubah.
Keyword density tidak relevan sebagai faktor ranking konten -> nah ini kayanya perlu dibold yaa supaya banyak pembaca yang lebih engeuh lagi, hehehe.
BalasHapusIntinya, bikin artikel yang beneran bermanfaat dan menjawab kebutuhan user ya supaya relevan dengan hasil yang dicari. Kalau artikelnya relevan, lama kelamaan juga meningkatkan authority web juga, dan itu justru yang bikin Google semakin percaya sama website kita dan mau memberikan ranking pada pencarian di niche yang sesuai.
Begitu baca Top of funnel, Middle of funnel, dan Bottom of funnel, oh ini tuh search intent yaa. Paling banyak untuk blogger itu sepertinya top of funnel ya karena informasional, bottom of funnel udah semacam marketplace berarti yaa :D
Saya jujur harus belajar banyak soal SEO ini. Apalagi seiring waktu terus berubah y. Seperti soal penerapan keyword ini. Jadi intinya tulisan harus bagus. Terus penyebaran kata kunci harus secara alami. Tapi perlu diingat juga, harus divariasikan kata kuncinya
BalasHapusKalau dari yang pernah daku dengar KD ini udah gak terlalu menunjang, yang dicari konsep EAAT.
BalasHapusKalau daku sendiri, adakalanya pakai juga teknik KD, walau gak rutin tiap posting.
Penjelasannya sangat detail Kak, saya jadi banyak tahu secara deatil soal keyword density ini, sebagai orang yang nulis kadang kalau di WP masih fokus menulis keyword dengan konsep keyword density jadi tahu sebenarnya hal ini ga begitu ngaruh ya kalau di SERP ya, kalau di BS saya ga begitu memperhatikan atau menerapkan keyword density ini
BalasHapusDulu pernah baca tulisan yg mana keyword nya tersebar di mana2 😅😅. Dan memang bikin ga enak dibaca, juga bikin males utk datang lagi ke blog itu.
BalasHapusBanyak yg aku harus pelajari lagi ttg keyword dan lainnya ini. Termasuk belajar penempatan nya agar terlihat natural dan tulisan ttp enak dibaca 👍
Ini adalah sudut pandang yang menarik soal SEO di mana keyword density ini juga adalah salah satu yang diperhitungkan tapi ternyata ketika penggunaannya tidak perlu semaksimal itu tapi kita harus lebih pintar dalam memilih sehingga bisa dideteksi oleh Google menjadi artikel unggulan
BalasHapusWah saya belajar hal baru lagi. Selama ini sudah tahu tentang keyword tapi belum pernah tahu tentang keyword density apalagi keyword stuffing. Ternyata keyword density sudah tidak relevan lagi untuk rangking google.
BalasHapusSaya sendiri masih harus banyak belajar tentang SEO, apalagi yang berhubungan dengan info SEO terkini karena memang ilmu ini sepertinya terus berkembang, ya.
BalasHapusTentang keyword density dan keyword stuffing ini hal baru juga bagi saya. Selama ini nulis kurang memperhatikan aspek keduanya. Ternyata kebanyakan keyword stuffing dan tidak natural ga bagus juga, ya
Iya sih, karena ilmu SEO juga berkembang beberapa di antaranya yang kita pelajari dulu termasuk keyword density mulai2 kurang relevan. Yaaa tapi saya masih pakai trus gimana caranya diupayakan supaya ngeblend gitu di kalimatnya dibuat nggak kaku dan nggak terkesan dipaksakan. Namun karena emang nulisnya masih di blog personal, kurang terlalu ngoyo buat hal ini.
BalasHapusLSI keyword nih aku belum seberapa mudeng. Apakah nanti akan ada bahasan terpisahnya? :D
Benar sekali. Nanti akan ada bahasan terpisah di artikel terbaru
Hapusternyata keyword density kurang relevan lagi sekarang ini, mendingan LSI aja yang digunakan, riset yang bermanfaat banget.
BalasHapusbanyak yang kurang paham cara optimasi website, untuk itulah jasa optimasi website masih diperlukan
Sebel juga sih ya kalo kita baca konten tapi isinya keyword stuffing. Aku kira itu baik utk menaikkan rating konten kita di mata mbah Google. Ternyata malah sebaliknya.
BalasHapusAku juga udh memerhatikan keyword density ini. Aku upayain nggak stuffing bgt biar ga kena semprit mbah Google. Hehe.
Cara terbaik menurutku sih teteup bikin konten yang berkualitas, dan coba untuk menulis dengan senatural mungkin sih. Karena sekarang kan semuanya serba AI ya, dan AI itu sangat 'haus' sekali dengan konten-konten orisinal yang punya tingkat kepercayaan tinggi.
BalasHapusMakanya, aku sih dari dulu gak pernah terlalu pusing sama perkara keyword-keywordan begini.
Sepenting itu bermain cerdas dalam SEO yaa..
BalasHapusBahkan menyebutnya secara berulang-ulang dengan kalimat yang gak organik bisa menyebabkan Search Engine gak suka.
Ternyata menulis itu selain seni juga perlu ketelitian saat memasukkan Keyword yaa..
Nice info sangat mencerahkan sekali. Sebagai salah satu orang yang memang pengen mengoptimalkan setiap tulisan di blog, tentu pengetahuan dan hasil riset terkait keyword density sangat bermanfaat. Sehingga saya tidak terpaku pada hal tersebut, tentu nomor satu yang harus diperhatikan ya kualitas konten.
BalasHapusDari awal belajar SEO tuh sering banget denger keyword density ini. Awal² pakai keyword model gini tuh tulisan jadi kaku banget kayak mesin. Akhirnya lama² belajar gimana ngakalinnya supaya konten tetep enak dibaca tapi keyword densitynya masih dapet. Jujur tricky banget, Min.. 😅
BalasHapusAku sendiri mulai memilah mana teknik SEO yang ramah buat konten²ku. Karena dari berbagai teknik tuh beberapa masih terlalu kaku buat diterapin.. 😢❤️
Saya pribadi masih memakai keyword tanpa teknik khusus dalam penulisan ..
BalasHapusSetelah baca artikel ini jadi terpikir untuk mulai mengikuti strateginya..
Supaya artikelnya bisa naik kelas juga
Hmm jadi masih relevan tapi tergantung penggunaanya ya mas. Jadi update lagi ilmu per SEO an aku baca ini
BalasHapusWaktu masih aktif jadi content writer jadi belajar SEO, cari keywword, tahu apa itu keyword density, dll. Lalu pas dipraktekkan di blog sendiri ternyata hasilnya tidak sebagus ekspektasi. Persis seperti yang kakak jelaskan di tulisan ini.
BalasHapus